- Back to Home »
- [Cerpen - Zaharanisaf] Sebuah Lagu dan Ingatan Tentang Mantan Kekasih
Posted by : Zahara Nisa F
Minggu, 18 Agustus 2019
Sebuah
Lagu dan Ingatan Tentang Mantan Kekasih
Zahara
NF
***
Bagiku,
segala yang selesai biar selesai secara sempurna.
***
Ketika aku memutar lagu
itu, ingatan tentangmu menjadi sangat dekat.
Entahlah. Padahal
akhir-akhir ini, kamu sudah terasa begitu asing. Maksudku, katakanlah ketika aku tidak sengaja mendengar salah
seorang teman menyebut namamu, atau menemukan potret wajahmu di postingan
mereka, aku seperti sedang mendengar atau melihat seseorang yang tidak pernah
kuketahui, seseorang yang tidak pernah ada dan mengisi hari-hariku selama beberapa tahun belakangan, seseorang yang tidak pernah membuatku jatuh cinta dan patah
hati hingga nyaris gila. Aku seperti tidak pernah mengenalmu, dan kita seperti
tidak pernah berjumpa.
Tetapi malam ini, ketika
aku memutar lagu itu di ruang kamarku yang hanya seukuran 3x3 meter, segala
ingatan tentangmu tiba-tiba hadir begitu saja. Mereka menyergap masuk tanpa
mengetuk pintu. Dan sejurus kemudian, aku mengingat perjumpaan terakhir kita.
Malam itu, kita duduk
bersisian di sebuah kursi yang menghadap ke arah pohon mangga. Kau mengenakan
sebuah kemeja berwarna biru, sedang aku begitu kikuk dalam balutan jins dan
kaus putih –tanpa hijab. Kau begitu marah ketika tahu aku memutuskan untuk
melepas identitas sakral itu dari kepalaku, tetapi kau hanya pasrah sebab aku
begitu keras kepala. Tadinya kupikir kau meninggalkanku karena alasan itu, ternyata,
lebih dari itu kita memang sudah tak lagi searah. Sudah tidak cocok. Sudah
tidak bisa lagi bersatu.
“Anjani, jangan menangis,” katamu
waktu itu, begitu pelan dan lembut.
Mataku memang berkaca-kaca, Sakti, tetapi aku tidak sedang ingin menangis. Aku sedang menerawang, membayangkan bagaimana aku harus melalui hari-hari depan tanpamu. Kau tampak sama takutnya. Bedanya, kau punya harapan, semacam keinginan yang kuat untuk lepas karena kau mendambakan kebebasan.
Mataku memang berkaca-kaca, Sakti, tetapi aku tidak sedang ingin menangis. Aku sedang menerawang, membayangkan bagaimana aku harus melalui hari-hari depan tanpamu. Kau tampak sama takutnya. Bedanya, kau punya harapan, semacam keinginan yang kuat untuk lepas karena kau mendambakan kebebasan.
Apakah hubungan ini
membuatmu tak bebas? Tanyaku waktu itu, tentu saja aku menanyakannya di dalam
hati. Sebab aku sendiri tahu, pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan retoris;
sudah pasti jawabannya adalah iya. Kamu terkekang. Aku juga. Hanya saja, aku
tak pernah benar-benar mengakuinya sebab aku terlalu takut kehilanganmu.
“Juga, jangan menyakiti
dirimu sendiri,” kamu kembali bicara dengan nada suaramu yang pelan,
setengah merengek. Kau tentu sudah mendengar cerita tentang aku yang menenggak
sekian bungkus obat warung selepas kita bertengkar, aku yang bersikeras ingin
mati, aku yang tidak lagi punya gairah untuk hidup. Aku sendiri merasa semua
cerita itu begitu mengenaskan.
Sekian menit aku hanya
diam. Kuhirup sekuat mungkin sisa-sisa aroma tubuhmu sebelum esok aku tak lagi
mampu menghirupnya dari jarak sedekat ini. Sesekali, pandangan mata kita
bertemu, tetapi aku sudah tak menemukan binar apapun lagi di sana. Detik itu
juga aku tahu, kamu sudah tak mencintaiku.
“Kita masih bisa
berteman, An, kamu masih bisa menghubungiku kapanpun kamu butuh,” kamu berusaha
meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tetapi semua hanya omong
kosong. Setelah ini, jangankan berusaha menghubungimu, mendengar namamu saja
aku pasti tidak akan kuat.
Aku tahu, kau tidak
benar-benar ingin memutus perkenalan kita. Sebaliknya, kau ingin sekali kita
kembali bersahabat seperti dulu. Sebab hubungan kita memang lebih dekat dan
tulus ketika masih menjadi sepasang sahabat. Tetapi aku menolak, bagiku, segala
yang selesai biar selesai secara sempurna. Aku merasa tidak lagi mungkin
menjadi sahabatmu sebab menjadi sahabat berarti bersedia mendengar segala
ceritamu, bagaimana jika nanti kau bercerita tentang perempuan yang kau sukai?
Seperti dulu ketika kau bercerita tentang mantan kekasihmu yang pertama, dan
yang kedua, atau perempuan yang tidak sempat kau pacari karena sudah lebih dulu
bertemu aku. Bagaimana mungkin aku bisa?
“Sakti, apakah kau
mencintaiku?” Di antara bayangan-bayangan mengerikan itu, aku bertanya kepadamu
dengan penuh harap. Aku berharap jawabannya adalah iya. Aku berharap kamu
segera mengurungkan niatmu untuk berpisah. Aku berharap….
“Tentu, Anjani.
Kau sendiri tahu, aku tidak mudah berhenti ketika mencintai seseorang.”
Tetapi jelas sekali waktu
itu, kamu sedang berbohong. Seseorang telah membawa cintamu pergi. Begitu jauh.
Begitu tak terjangkau.
Pembicaraan kita malam
itu seolah tak menemui ujung, maka kita (atau lebih tepatnya kau) memutuskan
untuk menyudahinya. Meski ada begitu banyak pertanyaan di kepalaku, meski ada
begitu banyak kerinduan yang belum sempurna kutuntaskan.
“Sudah malam. Lebih baik kamu tidur, kapan-kapan kalo ada kesempatan, kita bicarakan lagi,”
katamu waktu itu seraya mempersilakanku kembali ke kamarku. Aku menuruti
permintaanmu, lalu kau bergegas kembali menuju kotamu.
Selepas kita akhiri pertemuan
itu, kau dan aku masih berkomunikasi. Kau menanyakan kabarku,
mengkhawatirkanku, kita seperti teman baik yang saling peduli. Hingga pada
suatu hari, ketidakmampuanku memilikimu benar-benar membuatku tersiksa, lalu
aku memutuskan pergi dari kehidupanmu. Aku menutup segala akses bagimu untuk
menemukanku. Aku menjauh. Aku bersikeras menenangkan diri. Kau seperti sudah
paham dan kau melepasku begitu saja. Seolah momen ini lah yang sebenarnya
sedang kau tunggu-tunggu. Kemudian kita menjadi saling asing, aku
perlahan-lahan melupakanmu.
Sampai hari ini. Aku
sebenarnya sudah hampir selesai dengan kisah ini ketika tiba-tiba saja mp3 player-ku memutar lagu itu. Lagu
yang membuatku begitu penasaran dan diam-diam ingin tahu kabarmu.
***
Pada akhirnya, aku tidak
bisa menahan diri untuk tidak mencari tahu tentangmu. Dengan
sedikit cemas, aku membuka salah satu aplikasi media sosial yang kupakai.
Kutulis namamu pada kolom pencarian. Aku memejamkan mata sambil menunggu proses
loading selesai. Ketika aku membuka mata, layar ponselku menampilkan
informasi tentang akunmu.
Tidak banyak yang
berubah, kecuali bagian foto profil yang tentu saja sudah kau ganti (semula
kamu memasang foto profil bersamaku), kau tampaknya juga sudah menghapus segala
postingan yang berkaitan denganku, juga sudah mengganti bio.
Aku terus menekuri isi
kronologimu hingga akhirnya, pencarianku tiba pada postinganmu yang paling
baru; sebuah foto dengan latar pantai, di dalam frame itu tampak siluet dua
orang manusia, kau dan entah siapa. Di bagian caption kau menulis; if something is destined for you, never in a
million years will it be for somebody else. Tulismu seraya menyebut salah satu akun.
Ada yang terasa gugur di
dalam dadaku, seiring dengan suara Armada yang menyanyikan bagian reff; Harusnya aku yang di sana
dampingimu dan bukan dia, harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia…. [*]
Yogyakarta, 18 Agustus 2019