- Back to Home »
- [Cerpen - Zaharanisaf] Wanita Gerimis dan Si Lelaki Pengantar Surat
Posted by : Zahara Nisa F
Jumat, 05 Mei 2017
"Wanita Gerimis dan Si Lelaki Pengantar
Surat"
Oleh: Zahara Nisa F
***
Betapa
di dunia ini, tidak semua orang bisa menemui kebahagiaan cintanya
masing-masing. Beberapa dari mereka harus terluka, kemudian mengubur
dalam-dalam perasaannya.
***
Wanita dengan kerudung
berwarna navy itu berjalan setengah
berlari. Nafasnya memburu seperti deru mesin. Sesekali, diliriknya sebuah
arloji hitam yang kini hampir menunjuk angka tujuh di tangan kanannya itu.
Nyaris saja.
“Selamat pagi Mbak,” sapa
salah satu siswi berkucir dua dan berkacamata. Yang kemudian hanya dibalas
anggukan kecil oleh wanita itu. Kalau saja keadaan tidak semendesak ini, ia pasti
sudah membalas sapaan si gadis berkucir dua dengan tidak kalah ramah.
Wanita itu dikenal baik.
Setiap warga sekolah mengenalnya sebagai seorang penjaga UKS yang murah senyum
dan penuh abdi. Setiap kali siswa maupun siswi datang ke UKS, ia selalu
menyambut dengan pelayanan yang memadai. Kemampuannya di bidang kesehatan jelas
sudah tidak diragukan. Ia lulusan salah satu akademi keperawatan yang
membuatnya tumbuh menjadi seorang perawat yang bisa diandalkan.
Tetapi, alih-alih berjiwa
setegar karang, wanita itu justru bermata gerimis. Adalah Anwar, seorang lelaki
pengantar surat lah yang pertama kali menyadari betapa rapuhnya wanita itu.
“Terlambat lagi?” tanya
Anwar ketika dirinya mendapati Si Wanita Gerimis tiba di muka UKS dengan
ekspresi terengah-engah.
“Untung belum bel,”
lanjut Anwar.
Wanita itu lantas membuka
pintu di hadapannya lalu merebahkan diri di sebuah kursi di dekat timbangan.
“Matamu sembab, Jah. Kamu
menangis lagi?”
“Bukan urusanmu.”
Anwar memiringkan
bibirnya, lalu tangannya merogoh tas.
“Aku mau mengantar ini,”
disodorkannya sebuah surat beramplop putih.
Ijah mendengus.
“Jangan marah padaku, aku
hanya menjalani tugasku sebagai seorang pengantar surat.”
Anwar menyebut Ijah
sebagai Wanita Gerimis, sebab gadis itu selalu datang dengan mata sembab.
Setiapkali dirinya mengantar surat atas nama Andika, air muka Ijah seolah
berubah seketika, lalu gadis itu akan menangis setiap selesai membaca surat
yang diantarkannya.
Batin Anwar
bertanya-tanya siapa sebenarnya Andika, apa yang dikatakan oleh lelaki itu
dalam suratnya sehingga Ijah selalu menangis.
“Andika itu mantan
pacarku,” kata Ijah. Membuat Anwar yang tengah membenarkan letak kerah
kemejanya seketika mendongak.
“Dia meninggalkan aku
demi wanita lain, tetapi masih rutin mengirimku surat. Itu menyiksaku,” kata
Ijah. Bulir bening mengalir deras membasahi pipinya.
“Makanya aku selalu gemas
kalo kamu datang, kamu pasti membawa kembali luka-luka itu.”
“Aku hanya menjalankan
tugasku,” sela Anwar.
“Kamu bisa membuang surat
itu ke mana sajalah, aku sudah malas menerimanya,” Ijah tampak jenuh, air
wajahnya mengisyaratkan rasa sungkan.
“Itu menyimpang dari kode
etik profesiku, Jah.”
Ijah mendengus lagi, “Ah
ndak tahu pokoknya aku sudah lelah.”
Wanita itu berlalu menuju
lemari, mulai menata obat-obatan yang sebetulnya sudah tertata. Dirapikannya
selimut yang sudah rapi, bantal-bantal yang sudah tepat letaknya. Lalu, kembali
rebah di kursi dekat timbangan.
“Kamu masih di situ?”
Ijah berdecak.
Anwar kemudian balik
badan. Berbulan-bulan kemudian, laki-laki pengantar surat itu tidak pernah
datang ke muka UKS lagi.
***
Anwar
secara diam-diam menyimpan surat-surat Andika di kamarnya. Ia tidak tega
menyaksikan Ijah harus terus terluka. Dari surat-surat Andika itulah Anwar
kemudian mengerti keadaan yang sebenarnya. Bahwa Andika, ternyata tidak pernah
sungguh-sungguh mencintai Ijah. Ijah baginya hanya sekadar tempat singgah. Mungkin,
itulah kenapa Ijah selalu menangis setiap selesai membaca surat Andika. Karena
dalam suratnya, Andika selalu bercerita tentang Maura. Wanita lain.
Ada
setitik rasa iba dalam diri Anwar. Betapa di dunia ini, tidak semua orang bisa
menemui kebahagiaan cintanya masing-masing. Beberapa dari mereka harus terluka,
kemudian mengubur dalam-dalam perasaannya.
Ijah terlalu baik untuk
menjadi seorang wanita dengan mata penuh gerimis. Maka, Anwar bertekad untuk
membantu gadis itu bangkit. Pernahkah kalian mendengar kisah tentang seorang
laki-laki yang tiba-tiba saja jatuh hati karena merasa iba? Anwar adalah
laki-laki itu. Dipikirkannya Ijah setiap malam. Kemudian, Anwar mulai menyusun
rencana agar dirinya bisa kembali bertemu Ijah tanpa mengantar surat dari Andika.
***
“Kenapa datang lagi? Mau
mengantar surat dari lelaki keparat itu? Sudah kubilang, kalau dia kirim surat,
buang saja ke laut,” Ijah mencak-mencak kala dirinya menemui Anwar tengah
berdiri di muka pintu UKS.
Anwar menggaruk kepala
belakangnya, merasa salah tingkah.
“Hm anu, Jah. Aku cuma
mau bilang, surat-surat mantan pacarmu aku selundupkan dan kusimpan sendiri.”
“Ya baguslah, buat kamu
semua saja sana.”
Ijah hari ini tampak
menawan dalam balutan batik berwarna peach
dan kerudung senada. Membuat Anwar berdegup sedikit lebih kencang.
“Sebagai gantinya, aku
mau memberi ini,” Anwar menyodorkan sebuah amplop merah muda. Di dalamnya
sepotong hati berdenyut-denyut.
“War?”
“Ambil itu, kuberi
untukmu dan jangan bersedih lagi.”
“War?”
“Kuberi sepotong hatiku
untukmu, aku tidak punya alasan kenapa. Tapi, aku bisa bersungguh-sungguh.”
Ijah menatap amplop itu
dengan mata berkaca-kaca. Sejurus kemudian, dirinya menangis. Tetapi, Anwar
yakin sekali itu adalah gerimis terakhir dalam hidup wanita itu. Karena setelah
hari ini, Anwar pastikan akan selalu membuat dia bahagia.
Ah Gadis Gerimis dan
Lelaki Pengantar Surat, kisahmu kemudian abadi dalam langit-langit UKS yang sejak
saat itu kemudian sepi pengunjung.
***
Brebes, 4 Mei 2017
#Ikan_Mas